Pribadi

Data Warehouse dan Sindrom Santa Klaus pada Orang IT

Posted on: 10 September 2008

Sudah cukup lama tidak menulis artikel mengenai IT atau Information Technology, mau saya coba mulai lagi dengan artikel ringan mengenai fenomena tingkah laku orang IT di kebanyakan perusahaan. Sindrom atau gejala Santa Klaus pada orang IT.

Sebuah fenomena yang terjadi antara hubungan entitas IT dan entitas  bisnis. Entitas IT telah menjadi pengurus atau pengelola sumber daya IT. Sedangkan entitas bisnis telah menjadi peminta-minta, meminta agar urusan atau pekerjaan mereka menjadi lebih mudah, nyaman dan menguntungkan. Karena entitas IT memiliki kontrol pada sumber daya IT maka dengan segala upaya agar semua permintaan dapat terpenuhi. Fenomena inilah yang disebut sebagai sindrom Santa Klaus.

Namun sayangnya entitas IT hanya bisa memberikan berdasarkan kebutuhan yang paling mudah dipenuhi. Dengan berkembangnya kompleksitas bisnis, permintaan entitas bisnis akan semakin kompleks dan beragam. Di sinilah momen di mana entitas IT sudah tidak mampu lagi menjadi Santa Klaus. Entitas bisnis sudah tidak lagi bisa tersenyum puas dan senang terhadap performa entitas IT. 

Fenomena ini terjadi karena entitas IT terhadap entitas bisnis berfokus pada nilai kepuasan entitas bisnis. Apakah ini salah? Tidak, namun terkadang bisa jadi salah.

Dalam studi kasus data warehouse, dengan fokus seperti di atas, entitas IT memiliki kecenderungan melakukan metodologi arsitektur “dump and run”. Banyak sekali perusahaan yang memanfaatkan teknologi data warehouse menggunakan pendekatan ini. Bahkan kebanyakan skripsi atau tugas besar kuliah S1 pun arsitektur ini sangat populer.

Fact and Dimensional in Point of Sales (Data Warehouse Toolkit, Ralph Kimball, Page 22)

Oke, kita punya desain Operasional Data Store dan spesifikasi log dari transaksi. Selanjutnya mendesain arsitektur data warehouse menggunakan info tersebut. Pendekatan ini sangat umum terjadi. 

Permasalahan akan muncul ketika dihadapkan sebuah log transaksi yang memiliki volume luar biasa (kira-kira 1 hari berjumlah lebih dari 10 GBytes). Arsitektur data ware house sudah dibuat, namun bagaimana menjustifikasi kebutuhan terhadap hardware maupun software yang mampu memberikan performa terbaik kepada entitas bisnis? Padahal data warehouse ini sendiri belum memberikan keuntungan yang nyata terhadap perusahaan (karena memang belum berjalan). Kalau pun sudah berjalan, apakah entitas bisnis akan menggunakan semua data tersebut. Tidak semua data yang disimpan merupakan informasi yang dapat memajukan perusahaan, lalu kenapa terus saja disimpan di sana? Bukankah dengan tidak menyimpannya maka IT dapat mengefesiensikan storage dari data warehouse.

Jadi seharusnya apa fokus dari entitas IT terhadap entitas bisnis? Dan metodologi apa yang tepat diimplementasikan untuk data warehouse yang memiliki volume data luar biasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Categories

Archives

My Bookmarks

%d blogger menyukai ini: