Pribadi

Tilang: Kenapa Takut Disidang?

Posted on: 3 Januari 2006

Tanggal 1 Desember 2006, ku kena tilang di Jln Soekarno-Hatta dari arah Kiara Condong menuju Kantor Bulog. Gara-gara menggunakan jalur cepat (ku pake motor). Lalu bla-bla-bla…. akhirnya kena tilang. Waktu itu pengen seh ambil jalan damai, tapi polisinya terlihat emosi gitu. Ya udah, ditilang lalu menghadiri sidang tanggal 30 Desember 2006.

Buat yang pernah kena tilang dan terkena denda di atas Rp. 20.000,- ku saranin baca pengalaman ku ini deh.

Biasanya waktu kena tilang waktu razia atau karena ngelanggar sesuatu, ku ngajak berdamai ama polisi. Kadang berhasil kagak bayar, kadang bayar juga. Kalo kena denda, biasanya bervariasi, dari Rp. 10.000,- sampai Rp. 100.000,-. Dan selalu meminta untuk diwakilkan saat sidang. Tapi, hari itu ku pengen tau, kayak gimana seh kalo di sidang? Nah, begini neh situasinya kalo di persidangan kena Tilang.

Waktu tanggal 30 Desember, ku dapet panggilan sidang jam 08.00 WIB (tertulis di kertas Tilang). Walau belum sempet mandi (cuci muka, ama gosok gigi aja), ku langsung pergi ke tempat Pengadilan Negeri di Jl. RE Martadinata. Jangan kaget kalo setibanya di sana, tempat parkir motornya malah di trotoar (padahal tempat parkirnya luas. Dan setau saya, Bupati Bandung lagi menggalakan penghijauan dan banyak sekali FO ditegur karena menjadikan teras depannya sebagai tempat parkir). Dan tentunya, banyak yang menawarkan jasa calo untuk mengurusi persidangan.

Dateng tepat waktu bukan berarti urusan kita jadi lancar. Walau sudah tepat jam 08.00, ternyata belum ada siapapun di persidangan! Tapi di ruang itu ada seorang petugas yang mengenakan pakaian training (hari Jumat seh) yang sedang mengumpulkan lembar Tilang berwarna merah. Sama seperti yang lain, lembar Tilang saya pun diserahkan pada petugas itu (dia sambil merokok saat itu). Sepertinya sudah cukup banyak lembar yang sudah terkumpul (padahal ku dah dateng pagi loh).

Sambil menunggu para pejabat sidang datang, saya sempat ngobrol-ngobrol ma orang-orang yang bernasib sama dengan saya. Namun rata-rata, masalah mereka adalah kena tilang saat razia gara-gara bunyi knalpot ama pelat nomor. Pembelaan mereka yangkena tilang gara-gara knalpot, karena hal ini bukan pelanggaran dan tidak ada sosialisasi resmi dari pemerintah jika memang hal ini sebuah pelanggaran, lagi pula, KIR belum berlaku di Bandung kata mereka (apa itu KIR?). Lalu yang masalah pelat nomor, mereka memang sering bermasalah ketika ada razia, karena pelat nomor mereka tidak sesuai standard. Pembelaan mereka, pelat nomor mereka rusak dan tempat penjualan umum pelat nomor memang rata-rata tidak membuat pelat nomor yang standard (begitu kah?), dan untuk membuat ulang di Samsat, prosesnya susah. Dan berbagai masalah lainnya.

Sudah jam 09.00 WIB, sidang masih belum dimulai sedangkan yang akan bersidang sudah memenuhi ruangan (tempat duduk sudah penuh, banyak yang berdiri juga). Petugas pengumpul lembar tilang menginformasikan kalo Penasehat Hukum serta Hakim sudah dateng, tinggal Jaksa Penuntut yang masih dalam perjalanan. Lalu saya kembali melanjutkan mengobrol dengan orang-orang di sana. Ada informasi menarik neh. Kata seseorang yang sudah berpengalaman dalam tilang-ditilang, katanya kalo kena tilang, suahakan kena denda di tempat di bawah Rp. 20.000. Kalo di atas itu, kata dia mending minta lembar Tilang dan menghadiri sidang. Kenapa? Karena di persidangan, denda yang akan kita terima tidak lebih dari Rp. 20.0000,-. Tapi perlu diwaspadai, katanya ketika kita menerima lembar Tilang, pastikan tidak mendapatkan yang berwarna biru. Lembar Tilang berwarna biru tidak diurus di persidangan, melainkan mengurus di bank serta polisi yang bersangkutan, dan biasanya denda yang diterima akan besar. Jadi usahakan mendapat yang berwarna merah.

Jam 10.00 WIB, hakim beserta hakim anggota dan penasehat hukum masuk ruangan. Dengan segera (lebih dari 3 orang menuju meja Penasehat Hukum, jadi saya berasumsi mereka adalah Penaehat Hukum, walau tidak terlihat sebagai penasehat karena ada beberapa masih memakai kaos training) para Penasehat Hukum menata ulang lembar Tilang (pada saat proses ini saya melihat beberapa lembar diselipkan di bagian atas, dan lembar yang diselipkan ini diambil dari saku mereka. Calo kah??). Saat itu sempat terjadi protes dari para tersangka (tersangka tuh maksudnya yang kena tilang). Inti dari protes mereka (dan juga saya) adalah persidangan yang terlambat. Dan Hakim beralasan bahwa Jaksa Penuntut sedang diperjalanan. Setelah protes serta beradu argumen antara petugas ama non-petugas, Hakim berinisiatif memulai persidangan tanpa kehadiran Jaksa Penuntut. Maka persidangan pun di mulai (saya bingung, saat itu sama sekali tidak ada suara ketuk palu atau penanda sidang telah dibuka).

Sidang dimulai dengan dipanggilnya dua orang gara-gara masalah tabrakan. dan mereka (kalo tidak salah) terkena denda di atas Rp. 100.000,-. Ketika mereka selesai, Jaksa Penuntut pun dateng dengan diiringi tepuk tangan sindiran para tersangka. Hehehe (saya tuh provokatornya).

Ini yang bikin saya heran. Sidang kena tilang tidak seperti yang saya bayangkan. Adanya tuntutan dan adanya pembelaan dari tersangka, lalu hakim menentukan hukumannya dengan berbagai pertimbangan, ternyata saya salah. Kenyataannya adalah sebagai berikut:

Dalam bentuk angkare (salah satu bentuk barisan dalam Pramuka), Jaksa Penuntut berada di sebelah kanan Hakim (kiri bagi saya) dan Penasehat Hukum di sebelah kiri Hakim (kanan bagi saya), tentu saja Hakim berada di tengah. Dan kami para tersangka, ada yang duduk dan berdiri, berada di depan mereka.

Prosesnya sangat simple, nama saya dipanggil oleh Penasehat Hukum, lalu saya menghadap Hakim. Hakim membacakan denda yang saya terima (saya kena denda Rp. 16.000,-) serta menyerahkan SIM beserta slip pembayaran (saya heran, padahal pada slip denda, saya tertulis Rp. 15.000,-). Saya menuju Jaksa Penuntut untuk melakukan pembayaran. Dan semuanya beres!

Semua proses di atas tak lebih dari 5 menit. Tidak sebanding dengan penantiannya. Saat menghadap hakim pun, yang ditanyakan Hakim adalah apakah saya benar-benar saya, bukan mewakili orang lain. Sangat simple! Dan tidak ada ruang untuk kita berargumentasi (sempat ada yang protes, tapi tetap saja dihiraukan Hakim).

Benar apa yang dikatakan oleh ‘pakar Tilang’ yang ngobrol dengan saya, biaya Tilang tidak lebih dari Rp. 20.000,-. Saat itu denda yang diterima antara Rp. 16.000,- atau Rp. 21.000,-. Semuanya sudah ada dalam skenario Hakim tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Categories

Archives

My Bookmarks

%d blogger menyukai ini: