Pribadi

Demo Anarkis Menentang Kenaikan Harga BBM

Posted on: 26 Juni 2008

Membaca salah satu berita mengenai aksi mahasiswa di detikcom, ada sebuah pertanyaan yang muncul. Anarkis. Apa yang pertama kali kita pikirkan ketika mendengar sebuah kalimat “Demo Anarkis Mahasiswa”?

Saya rasa istilah kerusuhan merupakan kosa kata yang paling tepat. Tapi saya tidak akan membahas mengenai etimologi di sini. Saya hanya ingin mengajak kita untuk melihat kondisi negeri kita secara lebih luas.

Aksi demo mahasiswa 24 Juni 2008 kemarin masuk dalam kategori kerusuhan. Maka wajar saja banyak orang yang tidak bersimpati terhadap demo tersebut dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan penyebab kemacetan, adu fisik dengan polisi yang jelas tidak berhubungan dengan pembuat kebijakan kenaikan BBM, pengrusakan aset negara (pagar DPR dan tol kota). Hingga pengambilan sebuah kesimpulan bahwa keadaan sudah sulit, mahasiswa justru mempersulit suasana.

Bagaimana jika aksi demo kemarin itu berbuah hasil dengan keluarnya sebuah kebijakan turunnya harga BBM. Apa perspektif kita terhadap aksi tersebut? Masihkah mau bilang bahwa aksi tersebut sebuah kerusuhan?

Jika kita menganggap bahwa demo kenaikan BBM kemaren (entah mereka mahasiswa atau simpatisan) adalah sebuah fenomena kerusuhan, berarti kita termasuk orang yang egois. Orang yang hanya melihat akibat instan dari demo tersebut tanpa mau melihat ke kondisi sesungguhnya dari lingkup yang lebih luas.

Memang seperti apa kondisi sesungguhnya dari lingkup yang lebih luas itu? Kondisi sesungguhnya adalah jika kita berdiam diri setuju atau tidak setuju dengan kebijakan kenaikan BBM, berarti kita telah dengan sengaja mempersilahkan pemerintah menganiaya bangsa ini secara perlahan.

Kematian karena busung lapar tak akan pernah dikaitkan dengan harga BBM yang naik? Bayi kurang gizi? Fenomena nasi aking? Masih banyak yang lainnya yang tidak akan pernah terkait pada kebijakan kenaikan BBM. Padahal kebijakan inilah yang menyebabkan hal tersebut subur di negeri ini.

Bagaimana nasib mereka yang terkena tragedi lumpur lapindo? Mereka sering demo dengan damai, tapi tetap tanpa hasil. Saya pikir wajar saja para demonstran tersebut melakukan kerusuhan. Pemerintah kita tuh termasuk anak yang bandel. Kalau tidak dijewer, tidak akan pernah mendengar pendapat yang lain.

Coba saja lihat kenyataan sekarang, mereka bukannya sibuk mengevaluasi kebijakan kenaikan BBM, justru sibuk mengapresiasikan aksi demo 24 Juni 2008 itu.

Lebih memilih mana, mendukung aksi menentang kenaikan BBM (1) atau setuju akan kenaikan BBM(2)? Well, kalau kagak mau ada macet lagi, sebaiknya pilih yang nomor (2). Berpikir instan dan egois itu memang mudah.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Categories

Archives

My Bookmarks

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: