Pribadi

Antara Malaysia dan Indonesia

Posted on: 28 Maret 2005

Dada saya serasa sesak menyaksikan media-media massa elektronik dan cetak di Indonesia yang dengan gencar memberitakan betapa “jahatnya” Malaysia akhir-akhir ini. Headline-hedline harian di Indonesia dengan gagah berani mengusung slogan-slogan perang melawan Malaysia. Seolah masa-masa ini tak ada kata yang lebih indah dinyanyikan selain berperang melawan Malaysia.

Negara jiran itu tiba-tiba saja menjadi ikon penjahat, penjajah, imperialis, serakah dan stereoptipe-stereotipe negatif lainnya yang ditumpahkan di wajahnya. Berbagai persiapan menyambut “pengganyangan” Malaysia pun dilakukan. Para militer dengan bangga membidikkan senjatanya ke arah perairan Malaysia. Pasukan katak sudah berenang ke medan peperangan. Bahkan para pemilik ilmu kanuragan dari kalangan sipil telah memulai latihan bela diri pencak silat, tenaga dalam dll. Tak peduli area konflik sebenarnya adalah perairan, bukan daratan. Para pemuda yang mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi segera mendaftar menjadi sukarelawan menyerang Malaysia, sambil membakar bendera negara Melayu tsb.

Para pecandu kode-kode gila komputer dengan bangga menjadi hacker (tepatnya cracker) situs-situs resmi Malaysia. Merobah (defacing) halaman muka situs tsb dengan kata-kata menantang perang.

Beberapa surat kabar memprovokasi pembaca, bahwa Pulau Ambalat diinvasi (padahal yang disengketakan adalah lautan / perairan, bukan kepulauan). Beberapa cendekiawan bahkan menghubung-hubungkan kejahatan Malaysia terhadap para TKI ilegal yang bekerja di sana. Lengkap sudah atribut Malaysia sebagai bangsa yang harus diperangi. Mengalahkan pamor terkutuknya negara amerika.

Sebelum kita ikut melakukan aktivitas membela tanah air, ada baiknya kita melihat konflik ini dalam perspektif yang lebih luas. Perairan Ambalat adalah lautan yang diklaim oleh Malaysia, sebagai konsekuensi logis dari pada penguasaan Sipadan dan Ligitan. Ibarat efek domino. Mau tak mau, karena Sipadan dan Ligitan dimenangkan oleh Malaysia, maka perairan Ambalat pun jatuh ke tangan mereka. Itu adalah fakta hukum.

Malaysia adalah negara hasil “didikan” Inggris, bukan jajahan. Rakyatnya lebih terbuka dan menguasai hukum dibanding tetangganya, yang benar-benar dijajah oleh Belanda. Tidak heran kalau penduduk Malaysia terlihat lebih terdidik dan bijaksana dalam segala hal. Mereka lebih pandai bagaimana mengelola alam, memelihara lingkungan.

Bagi yang pernah berkunjung ke Malaysia pastilah bisa merasakan perbedaan besar, antara Malaysia dan Indonesia. Rata-rata yang pernah hidup di Malaysia pasti merasa berat untuk meninggalkan Malaysia. Entah karena faktor ekonomi dan lainnya.

Sementara kita yang di Indonesia, dititipi oleh Tuhan belasan ribu pulau yang subur dan makmur, tidak satu pun yang kita kelola dengan benar (Bahkan ada ribuan pulau yang karena tak diurus, tidak punya nama panggilan). Ketika Irian Barat (Papua) dengan semangat revolusi direbut dari tangan Belanda, berapa banyak nyawa anak bangsa ini yang melayang? Berapa modal materi yang kita keluarkan?

Ketika Irian Barat telah berhasil direbut, apakah pulau yang besarnya 5 kali pulau Jawa itu berhasil “menghidupi” rakyat Indonesia, atau minimal rakyat Papua? Kekayaan alam yang melimpah, malah diexploitasi pihak asing. Ketika Freeport beroperasi, berapa persen yang rakyat Papua dapat? Nil persen. Emas, minyak, pohon semua duitnya lari ke asing. Jakarta hanya dapat komisi. Sementara rakyat Papua hanya dapat hadiah hiburan; KOTEKA!

Ratusan ribu kubik batang kayu ditebang dari hutan Papua untuk diselundupkan ke negara asing. Siapa yang dapat duitnya? Oknum militer, pejabat, dan penanam saham asing. Rakyat Papua? Dapat hadiah hiburan; Koteka lagi.

Kenapa bisa begitu? Karena para petinggi bangsa ini bermental MALING. Rakyat hanya dianggap babi liar. Ketika rakyat melaju di jalan raya berlobang, becek, berdebu, tak ada seorang pejabat setempat yang berkenan hatinya menambal itu jalan. Tapi ketika yang mulia dipertuan agong bapak sri maha rahaja presiden atau wakilnya mau lewat, tiba-tiba jalan jadi mulus. Padahal sebelumnya ratusan tahun “babi-babi liar” tersiksa oleh jalan rusak itu.

Ketika Exxon Mobil dibuka dan beroperasi, apakah rakyat setempat dapat untung? Alih – alih untung, rakyat sekitar yang protes malah ditembak mati. Pelakunya hilang tak tersentuh hukum. Ketika teluk Buyat tercemar, siapa yang telah dengan senang hati memberi lisensi perusahaan amerika membuka tambang emas di sana? Pemerintah. Apa yang didapat masyarakat sekitar, ketika dari dalam tanah mereka digali berton-ton harta karun? Penyakit benjol-benjol, gatal-gatal, kejang-kejang. Tak secuil emas pun yang diberikan kepada mereka sebagai kompensasi.

Dan banyak lagi kasus-kasus pemerkosaan alam oleh generasi “terdidik” bangsa ini, yang menjadi pemimpin. Kawanku… bangsa Indonesia musti banyak belajar bagaimana mereka berperilaku sebagai manusia beradab. Manusia beradab tidak akan mau mengorbankan derajatnya hanya untuk menebangi pohon, membunuh binatang, menangkapi burung yang tak berdosa. Manusia beradab tak akan rela memakan daging saudaranya sendiri, merampok emas di pekarangan saudaranya sendiri. Alam adalah guru, apa jadinya kalau guru ditebang, dibabat, dibunuh, ditembaki.

Rakyat beradab punya hukum, bahwa di negara manapun kita berada, harus punya visa kerja kalau ingin bekerja. Tidak bisa begitu saja tinggal di suatu negara tanpa ijin bekerja, atau ilegal. Rakyat beradab tidak akan bersikap vandalis atau anarkis, membakar bendera negara orang seenak sendiri. Pejabat beradab tak akan memberikan lisensi begitu saja pada pengusaha asing untuk membabat hutan. Manusia beradab musti bijaksana, bahwa ada perbedaan yang besar antara lautan dan daratan. Manusia beradab punya akal, bahwa setinggi apa pun ilmu bela diri kita, pencak silat kita, tenaga dalam kita, kungfu kita, masih kalah cepat dengan laju sebutir peluru dari sebuah pistol.

Intinya, janganlah terpancing oleh kasus-kasus perebutan lahan, yang pada akhirnya tidak akan menghasilkan apa-apa bagi kita. Karena masih banyak lahan, masih banyak pulau, masih luas lautan yang perlu kita tata dengan benar bagaimana mengexplorasinya untuk rakyat.

Dan semua itu hanya dapat terealisir kalau kita menjadi bangsa beradab. Pada saat ini, mungkin kita masih berada dalam taraf kebalikan kata beradab, biadab. Orang biadab hanya tahu kata “kompromi” dalam mempertahankan opininya: perang!, ganyang!, sikat!, bakar!, mmakan! Dan sinonim-sinonim lainnya. Orang beradab akan selalu menang melawan si biadab.

Dan kalau kita masih biadab, maka jangankan Sipadan-Ligitan, jangankan perairan Ambalat… pulau Jawa sekalipun kalau diklaim oleh Malaysia atau Singapura, biarlah diatur oleh mereka. Karena kita sendiri toh tak tahu, bagaimana hanya sekedar memasang kancing baju sendiri.

wassalam

Oleh:
emabdalah

About these ads

17 Tanggapan to "Antara Malaysia dan Indonesia"

ANJIIIIING KAU!!!!!
PERGI SANA KE MALINGSIA< MATI ANJING AJA DI SANA JANGAN BALIK LAGI

Biarkan sahaja Indon perli kita. Sepatutnyalah kita diperli. We are wrong, right? bukannya nak agung agungkan Indon. But, see the fact! Kerajaan kita memang perogol.

Apa anda tahu bahwa MALINGSIA ini dibangun oleh rakyat indonesia…. sudah berpuluh-puluh tahun kontraktor di sana memakai jasa pekerja Indonesia. Bangsa Maling-Yu ini terkenal dengan kemalasan dan mereka hanya memiliki sedikit budaya lokal.
Kerajaan mereka berdiri karena pendatang dari sumatera dan Sulawesi. DATUK yang mereka sebut itu adalah turunan dari sulawesi. yang merantau dan kemudian dijadikan tauladan dan diangkat sebagai pemimpin karena kecakapannya.
Maling-yu MAling sia ini adalah bangsa yang lupa akan asal usulnya. sehingga mereka sibuk membuat jadi diri agar dianggap sebagai bangsa yang memiliki akar sejarah. tapi mereka tidak punya sehingga apapun mau dianggap sebagai akar budayanya.

_________Maling=pencuri+bernoda,__________asal asli VS asal diasal>>>?*&%$@#<—-{bentuk berbagai vulgar opini} VS ~~~~—–///<——-{bentuk berbagai lisan tumpul}.

kericuhan Monoton pada ending of the of 2007,…is it??question guys…did not or right?well,its happening…….so fuck off for u!yea you!orang berbudi dan berkacakapan bangsawan yang merasa brillian and money power.

Penipu leluhur sendiri…eyang leluhur kalian pun MENGAKUI HAK KAMI bukalah telinga kau buang kotoran telinga kau bila tak merasa milik hak orang kau rampas…jangan silap semata lalu kau nikmati tampa merasa “EYANG LELUHUR KAU MENGUTUK PERBUATAN KALIAN DAN BERKATA SESATLAH”.

bagaimanapun,origanaly this tradition belong and only to our indonesian country
not to YOU AND U who the mastermind of this trebble action who make as anggry
put off fake face with look a lame lamb.

MERDEKA!MERDEKA!

yooooo,Save our tradition….GIVE me YEEEAAAAH!!!

buat warga indon….sebenarnya mmang kami asalnya dari indon juga..ttapi setelah kami berada di sini…kami mempunyai penduduk berbilang kaum,berbangsa-bangsa….bermacam warna kulit… ingin hidup harmoni dan bahagia….mmang bangunan pencakar langit kebanyakan dibina oleh warga indon…atas ikhsan..warga indon mahu bekerja….cari duit…untuk keluarga..kata mereka serumpun…..tiada apa yg hendak dibahaskan kerana kami tahu anda hidup susah disana….sentiasa susah..sebab itu anda dtang ke malaysia..walaupu masuk menyeludup…..yg kaya terus kaya…yg miskin semakin miskin…..kami simpati nasib anda disana….

malaysia kakean dancok njaran

lo bilang gitu…soalnya nenek moyang lo cm jadi pecundang waktu jaman kemerdekaan…..mungkin, jadi tukang bersih bokong belanda kali yaaah………………..
kenyataannya orang malingsia rata2 jelek, bodoh, IQ jongkok…..he..he..he…..mampus lo…wkwkwkwkwkwkk

kalau tak suka malaysia bawaklah balik semua orang indon yang ada di malaysia.

aku ada ramai gak kawan orang indon tapi diorang ok je.orang indon yang tak suka orang malaysia aku rasa dari keturunan yahudi kot sebab bangsa yahudi je yang kebanyakkannya berperangai buruk macam tu.

indon dan malay tu bersahabat akan jadi hebat

korang org INDONESIA yg sbnr nyer jelek,bodoh serta IQ low!!
sedang malaysia mncpta nma korang msih mnjdi bruh binaan yg busuk lg hodoh!! sedang malaysia org yg pndai korang msih menjdi buruh binaan yang hina!! klau benar kamu org INDONESIA org yg pandai kenape masih jdi buruh binaan? kenape masih mahu berperang sedang kita merupakan saudara serumpun! jika orang yang bodoh tak adelah negara kami lebih maju dari negara INDONESIA!! dasar tak berpelajaran!

aku stuju dgn komentar dri pnulisnya..dlm byk2 blogger indon yg ade yg inilaa yg paling cerdik dan berfikiran pakai akal bukan kepala lutut..aku rase pnulis ni pernah dtg ke malaysi atau pernah mnetap kt m’sia..kbanyakan yg nki gayang m’sia ni semuanya yg xpernah jejak kaki kt m’sia @mana-mana ngara..sebab tulaa pikiran tertutup lembap dan xboleh fikir pkai akal waras..tp aku tabiklaa pnulis ni memang stuju..xsemua ngara perfect, m’sia pun ade kkurangannya..tp kami xpernah pulak bakar bendera indon w/pun rkyat kmi mati dibunuh perampok dri jawa…fikir2kanlaah..kdg2 biadap tuu akn kalah dgn yg beradap..bravoooo…peace no war!! hwkhwkhwk

ayoooo…..Indonesia majuu pendekar2 siap…lama tdk beratem pegel semua rasanya…malaysia oek

seronok membaca hasil tulisan penulis ini yg berIQ tinggi. berbahas menggunakan akal dan bukan mulut semata2 seperti sesetengah penduduk indon yg tak punya akal dan tak punya maruah. tahi sendiri di pegang2, ditayang2….

Ya.Kalau benar apa yang ditulis oleh blogger ini,mungkin dia pernah menetap atau pernah mengkaji malaysia dan negaranya sendiri.terima kasih kerana menulis hal ini disini supaya ia nampak jelas.

Karena itu supaya negara kita tidak kecolingan lagi ada baiknya merawat semua aset bangsa, jangan sampai merasa punya setelah ditangan bangsa lain. Belajar dari pengalaman Bung Karno
Indonesia Pasti Bisa…

aku mencintai apapun yang ada di negeri ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Categories

Archives

My Bookmarks

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: